Banyak orang putus asa kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Seperti juga yang dilakukan Oentaryo, lelaki berusia 56 tahun asal Bekasi, Jawa Barat. Akibat sakit yang berkepanjangan, Ia kemudian memilih untuk bunuh diri.
Namun, cara yang dipilih Oentaryo beda dari kebanyak orang. Ia menyewa orang untuk membunuh dirinya. Oentaryo membuat skenario perampokan yang berujung pembunuhan terhadap dirinya. Niat mengakhiri hidup pun terlaksana.
Dijelaskan Kasie Humas Polsek Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat, Ajun Inspektur Satu Benny Susilo, kasus ini terungkap pada Senin, 17 September 2012, setelah petugas menangkap Dedi Hermansyah, 19 tahun.
Dedi dibekuk polisi dari rumahnya di Kampung Rawa Bacang, RT 10, RW 14, Jati Rahayu, Pondok Asri, Pondokgede, Bekasi. Pria ini diduga sebagai pelaku perampokan terhadap Oentaryo. Baru belakangan diketahui bahwa aksi ini telah direncanakan. Dedi sengaja melukai korban karena si korban meminta dibunuh.
Disampaikan Benny, awalnya, Oentaryo ditemukan warga bernama Andreas Pitaya, terjatuh di got pinggir jalan Perumahan Bumi Dirgantara Permai, Bekasi, sekitar pukul 20.00 WIB. Kondisinya luka serius di bagian leher.
Bersama dua petugas keamanan perumahan, Oentaryo kemudian dibawa ke Rumah Sakit Jatisampurna. Karena kondisinya cukup parah, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur. Kasus ini kemudian diselidiki polisi dan korban masih sempat memberi keterangan mengenai kejadian ini.
Semula, dugaan polisi mengarah kepada Kardi, ayah Dedi yang pernah bekerja sebagai tukang bangunan di rumah Oentaryo. Saat mendatangi rumah Kardi, polisi justru mencurigai Dedi yang tidak pulang setelah Oentaryo menjadi korban perampokan.
"Dedi ditangkap pada Selasa, 4 September 2012. Ini atas tuduhan perampokan terhadap Oentaryo. Pelaku memang masih kenal, dan tidak pulang karena bekerja di pabrik roti," katanya, Selasa, 18 September 2012.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Dedi mengaku diminta Oentaryo pada Selasa, 4 September 2012, sekitar pukul 15.00 WIB, untuk membunuh. Dengan iming-iming uang Rp1 juta, Dedi bersedia membunuh atas permintaan Oentaryo.
"Dedi ditanya pernah membunuh orang atau belum. Akan diberi uang Rp1 juta kalau mau membunuh Oentaryo," kata Benny.
Dedi langsung menerima permintaan Oentaryo. Keduanya dengan berboncengan sepeda motor langsung berkeliling mencari lokasi pembunuhan yang dianggap aman.
Karena masih ramai, mereka kemudian menyempatkan makan sate di kawasan Puri Gading, Pondokgede. Mereka juga membeli lakban, tali plastik, dan pisau daging untuk melancarkan aksi mereka.
"Leher Oentarnyo disayat. Dedi yang merasa sudah melaksana tugasnya langsung pergi. Ternyata Oentaryo belum mati dan masih sempat berjalan karena menahan sakit. Kemudian ditemukan orang di jalan dan dilarikan ke rumah sakit. Kasus ini lalu terungkap," katanya.
Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa hidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Kalau Allah sudah menentukan bahwa seseorang akan meninggal, maka tidak akan dia bisa tetap hidup walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin, dan kalau Allah belum menentukan bahwa seseorang akan meninggal, maka hasilnya seperti berita di atas. Sumber : Topik Pagi ANTV.
Kamis, 20 September 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)